A. Sejarah dan
Asal-Usul Masyarakat
Pada tahun 1830
M odel berdiri. Entah terkena sebab apa, kampung odel ini berpindah ke pinggir
sungai nama nya pangkalan nangka atau kali wasiat. Kemudian berpindah lagi
kekampung yang sekarang karena terkena banjir, yaitu pada tahun 1838 M hingga
sekarang. Semenjak bupati banten ke sepuluh meninggal, sudah dimakamkan di
kampung ini yaitu dipemakaman pangeran “Mulyasrama” yaitu orang kerajaan daerah
pulau jawa.
Tokoh pertama
yang mendiami kampung ini adalah ki gede odel itu sendiri dengan beberapa orang
lainnya. Sedangkan orang yang menyebutkan pertama kali ini adalah kampung odel,
yaitu anaknya sendiri Sukmaraga dan Sukmajati. (menurut penuturan sang nara
sumber, Bpk Masnun yang beliau ketahui dari H. Arsa, sesepuh pada masa itu).
Mayoritas
penduduk kampung odel ini yaitu asli dari sini, hanya saja ada sebagian yang
datang dari luar, termasuk juga bapak Masnun sendiri ( sang Nara sumber).
D. Pendidikan Masyarakat
Pandangan masyarakat terhadap pendidikan sangat lah kurang. Bisa terhitung
anak-anak yang melanjutkan sekolah ke tingkat menengah atas. Bahkan tidak ada
satu orang pun yang tercatat sebagai sebagai mahasiswa disana. Orientasi
masyarakat pun hanya terpaku pada ijazah, bukan dari seberapa besar atau pun
seberapa banyak ilmu yang didapat. Menurut data yang kami terima dari kelurahan
setempat, persentase kelulusan pendidikan masyarakat kampung odel ini adalah :
60 % lulusan SD, 20 % lulusan SMP, dan
20 % lulusan SLTA. Dapat kita simpulkan dari data tersebut, bahwa minat masyarakat
terhadap pendidikan sangatlah minik sekali.
Selepas mereka lulus dari sekolah tersebut, mereka tidak melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi, melainkan mereka beradu nasib di tempat
mereka sendiri dengan menjadi kuli-kuli, atau pun menjadi karyawan di suatu
pabrik. Faktor yang menjadi penyebab mereka tidak melanjutkan sekolah, menurut
kami bisa dikarenakan dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Adapun
faktor internal meliputi keinginan seorang anak tersebut terhadap ilmu pengetahuan,
sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan, baik keluarga maupun
masyarakat. Bisa saja anak tidak melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi
keluarga, atau mungkin karena melihat teman-temannya yang lebih memilih untuk
bekerja.
Adapun pendidikan agama, memang ditanamkan sejak dini. Baik bersifat non
formal, seperti pengajian Al-Qur’an ba’da maghrib atau pun yang bersifat semi
formal seperti sekolah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Selain itu juga ada
sebagian anak yang memang pergi ke kampung sebelah atau ke luar daerah untuk
menuntut ilmu di pesantren, seperti ke tebu ireng, jawa.
Selain itu juga, dikampung ini terdapat pengajian yang memang diperuntukkan
bagi kaum ibu dan bapak-bapak, yang dipimpin oleh Ustad Sayuti. Bentuk
pengajiannya menggunakan metode ceramah, dengan materi pengajian yang
berbeda-beda baik itu mengenai ilmu fiqih, akhlaq, ibadah dan lain sebagainya.
Pengajian ini rutin dilakukan setiap satu minggu sekali.
E. Bahasa
Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari adalah bahasa jawa banten, bahasa ini sejak
dulu lahir dan menjadi warisan budaya banten, bahasa ini juga kadang-kadang di
gunakan oleh anak-anak di sekolah, pada saat kami mewawancarapun mereka lebih
banyak menggunakan bahasa jawa dibanding kan dengan bahasa indonesia. Menurut
mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia masih di bilang sulit,
kaku dan belum lancar, sehingga mereka lebih terbiasa dengan bahasa daerah
sendiri. Ini menunjukan bahwa bahasa jawa bantenlah yang sering di gunakan
sehari-hari untuk berkomunikasi.
Menurut sumber yang kami wawancarai persentase orang tua yang tidak bisa
bahasa Indonesia itu kira-kira 80% ini
menandakan bahasa Indonesia kurang di minati, bahasa yang di gunakan itu
bepengaruh dari lingkungannya, kondisi bahasa jawa banten masih digunakan dulu
dan sekarang , meskipun ada yang bahasanya campuran bahasa Indonesia dan jawa
banten saat sedang di wawancarai.
F. Sistem Mata Pencarian
Kondisi ekonomi
rata-rata di kampung odel itu bisa di katakan menengah ke bawah , pekerjaan
yang paling banyak digeluti itu buruh. Seperti
buruh panglong(buruh kayu) pekerjaan inilah yang sehari-hari sebagian
masyarakat odel kerjakan Karena di sekitar ksampung ini banyak pabrik kayu
itulah alasan kenapa masyarakat odel memilih bekerja panglong kayu dibandingkan
petani dan yang lainya,
Persentase pekerjaan dikampung ini 70%
buruh, 15% karyawan dan 15% petani, berbeda dari kampung-kampung lain pekerjaan
buruh lah yang paling di minati bukan petani, pekerjaan ibu-ibu hampir rata-rata ibu rumah tangga dan ada juga
karyawan tapi itu hanya beberapa saja, penghasilan dari buruh itu kira-kira 20 ribu
per hari atau kurang lebih 600 ribu
perbulan, dari penghasilan tersebut, yang bisa dikatakan sangat lah kurang,
mereka dituntut untuk menggunakannya dengan sebaik mungkin, sehingga dipaksa
untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka sehari-hari.
G.
Pandangan Hidup dan Adat Istiadat
Mengenai pandangan hidup, masyarakat
percaya dengan sejarah odel. Ki gede odel memiliki dua orang anak, sukma raga
dan sukma jati. Sukma raga memiliki istri yang bernama nyi Karinah. Suatu hari,
saat nyi karinah hamil, ia mengidam minta buah nangka kepada suaminya, si istri
mengatakan bahwa itu adalah keinginan si jabang bayi. Sukma raga tidak percaya
masa seorang istri yang sedang hamil minta apa-apa yang tidak pada waktu
musimnya. Kemudian ki gede odel mencarikan
buah nangka tersebut untuk calon cucu nya. Sukma raga marah, karena
tidak percaya maka akhirnya ia membedel (membedah) perut istrinya, dan memang
benar si jabang bayi tersebut sedang mengemut buah nangka tadi, barulah sukma
raga percaya dan menutup kembali perut istrinya. Saat proses melahirkan, nyawa
sang bayi dan istrinya tidak dapat tertolong, kedua nya meninggal dunia. Dan
hingga saat ini, nyi karinah tersebut sering datang dan mengganggu orang-orang
yang hendak melahirkan. Ia (nyi karinah) sering masuk kedalam jiwa seseorang,
yang tentunya hanya orang-orang yang lemah keimanannya yang bisa kerasukan itu,
maka dari itu, benteng keimanan seseorang haruslah diperkuat sehingga terhindar
dari gangguan dan bahaya tersebut.
Mengenai adat istiadat di kampong
Odel ini, ada beberapa adat istiadat
yang hingga saat ini, merupakan hal yang harus dan mesti dilakukan. Seperti
misalnya ketika hendak memasang pondasi rumah, nyuguh tamu (menyambut kelahiran
seorang bayi ), acara pernikahan, bebaksan, dan lain sebagainya.
Ketika hendak memasang pondasi rumah,
maka sebelum memasang pondasi tersebut
harus di bacakan syekh terlebih dahulu. Adapun isi bacaan Syekh tersebut
merupakan rangkaian puji-pujian , syair-syair dan do’a-do’a. tujuan dari acara
tersebut adalah tidak lain sebagai do’a mengharapkan kebaikan, kelancaran dan
keberkahan.
Ada juga yang
nama nya “nyuguh tamu”, yaitu acara berupa riungan yang dilakukan ketika
lahirnya seorang bayi. Nyuguh tamu tersebut
artinya menyambut kedatangan tamu baru, yaitu sang anak bayi yang baru lahir tersebut.
Selain itu juga terdapat sutau
tradisi yang namanya “Bebaksan”, yaitu arak-arakan seorang anak kecil yang akan
disunat. Ketika arak-arakan tersebut, sang anak digendong oleh orang dewasa
yang memakai kukusan-yaitu alat yang berbentuk kerucut yang biasa digunakan
untuk memasak nasi, selagi di arak itu, sang anak juga sambil di seborin dengan
air, dan kemudian ada saweran.
H.
kesenian dan Tradisi sebagian lisan
Adapun kesenian yang ada di kampong
odel, yaitu berupa kesenian Rudat, yang dimainkan oleh 12 orang, seni bela diri,tradisi dzikiran dan baca syekh. Pada masa lampau
kesenian atau tradisi dzikiran ini lah yang paling dibesar-besarkan.
Dzikiran ini merupakan rangkaian
lafadz tahlil, tasbih,tahmid dan asmaul husna yang digabung. Seperti :
لااله الاالله
Ø³Ø¨ØØ§Ù† الله والØÙ…د لله يا رØÙ…Ù† يا رØÙŠÙ…
لااله الا
الله Ø³Ø¨ØØ§Ù† الله والØÙ…د لله يا ØÙŠ ÙŠØ§ قيوم
Dan seterusnya dengan asmaul husna
yang berbeda-beda dengan jumlah yang beragam pula. Dzikiran ini tidak dibatasi waktu pelaksanaannya, baik siang
ataupun malam. Dzikiran ini dilakukan untuk penenangan warga keseluruh
masyarakat banten. Dalam suatu kitab do’a ini di sebut sebagai do’a Kanzul
‘Arsy. Akan tetapi seiring berjalannya waktu tradisi ini sedikit demi sedikit
menghilang. Yang biasanya dibaca bersama-dengan jumlah yang sangat banyak, akan
tetapi pada masa sekarang mungkin hanya segelincir orang saja yang masih
mengamalkannya.
Tidak ada suatu
permainan rakyat khusus yang biasa di mainkan oleh masyarakat di kampung odel
saat ini. Bahkan dari sekian
banyaknya permainan untuk anak kecilpun, yang bertahan dan biasa dilakukan oleh
mereka saat ini hanyalah sebatas permainan sepak bola. Sedih memang rasanya anak-anak
zaman sekarang lebih tertarik dengan permainan-permainan yang berbau modern,
seperti bermain Play Station (PS), gadget dan lain sebagainya, sehingga mereka
tidak mengenal dengan permainan-permainan rakyat zaman dulu.
Terdapat berbagai makanan yang
biasa di buat dan dihidangkan pada saat-saat tertentu. Baik berupa kue-kue
ataupun masakan yang lainnya. Waktu penyediaan nyapun bervariasi. Di hari raya,
baik idul fitri maupun idul adha, makanan atau kue yang biasa mereka buat
seperti : gemblong, rangginang,ranggining ataupun kue-kue kering yang lainnya
semisal kripik-kripik dan lain sebagainya.
Untuk perayaan hari-hari
tertentu, semisal acara pernikahan, Perayaan Hari Besar Islam ( PHBI ) kue yang
pasti akan ditemui yaitu gembleng, apem dan berbagai kue yang lainnya.
Gemblong yaitu makanan yang terbuat dari beras ketan
yang di campur dengan parutan kelapa. Cara pembuatannya cukup mudah hanya saja
membutuhkan tenaga yang luar biasa, karena untuk menumbuk campuran tersebut
hingga halus tanpa butiran biji beras tersebut.
Adapun Gembleng adalah kue
yang berbahan dasar tepung beras, yang dicampur dengan tepung aci, garam,gula,
air santan dan daun pandan sebagai pengharum makanan.
Sedangkan Apem, terbuat dari tepung beras, yang dicampur dengan tape,
air santan, gula dan daun pandan.
Adapun makanan atau masakan
khusus yang biasa di suguhkan pada acara-acara seperti walimahan, syukuran
ataupun resepsi pernikahan, yaitu “ Rabbeg “. Rabbeg yaitu masakan yang
berbahan dasar daging kambing yang di lumuri dengan berbagai macam
rempah-rempah sehingga menjadikan cita rasa yang sangat nikmat. Jenis makanan yang satu ini
merupakan keharusan bagi si pemilik hajat untuk menyediakannya. Rasanya kurang
afdhal bila menu rabbeg ini tidak tersedia disuatu acara.
Adapun mengenai pengobatan,
sebagian masyarakat ada yang masih menggunakan obat-obatan tradisional yang
memang mereka percaya dapat menyembuhkan penyakitnya, selain itu juga ada yang
pergi ke klinik, tidak menggunakan obat tradisional. Akan tetapi bila kaitannya
dengan hal-hal yang ghaib, mereka juga masih percaya dengan seorang dukun.
Dukun tersebut, selain dipercaya menyembuhkan penyakit ia juga dipercaya mampu
membantu orang-orang yang kehilangan atau kecurian.
I.
Tabu atau Pantangan atau Pamali
Seiring berjalan nya waktu, hal-hal yang dianggap tabu oleh masyarakat
pada masa lampau, tidak berlaku pada masa sekarang. Misalnya seorang perempuan
tidak boleh keluar rumah dimalam hari, dengan alasan yang tidak jelas, mereka
hanya mengatakan pamali saja. Selain itu juga sikap masyarakat terhadap suatu
makam, biasa nya orang tidak akan berbuat hal-hal yang ganduh atau pun kurang
sopan karena khawatir mengganggu, tetapi di masa sekarang masyrakat terkesan
cuek bebek dengan hal itu. Suatu contoh, biasa nya orang tidak berani melakukan
hal-hal yang kurang baik di sekitar makam, tetapi sekarang dengan santai nya
mereka mengadakan orgen ( dangdutan ) di sekitar makam.
Akan tetapi ada beberapa hal yang masih dianggap tabu oleh masyarakat
hingga saat ini, yaitu khusus nya bagi kaum perempuan yang sedang hamil.
Seorang wanita yang sedang hamil tidak boleh:
§
Keluar rumah di waktu Dzuhur dan
Magrib
§
Duduk di depan pintu
§
Melewati kayu yang menghalangi langkah
kaki
§
Melewati pohon “ kecacil” yang
tumbuh di pinggir kali, dan
§
Tidak boleh bepergian sendiri,
karena khawatir dibawa syaitan.
Selain larangan tersebut, wanita hamil juga di haruskan untuk membawa
gunting, dengan tujuan agar terhindar dari bahaya. Selain itu juga, sang suami
dari istri yang sedang hamil tersebut, tidak boleh melakukan hal-hal dengan
sembarangan karena khawatir akan berimbas bagi kesehatan si bayi mereka.
Hal yang dianggap tabu atau pantangan lainnya, yaitu : saat acara ngusur
tanah (meninggal nya seseorang ), tidak boleh membuat sayur menggunakan kacang
panjang. Hal ini menurut mereka dikhawatirkan makam kubur nya akan terus
memanjang. Wallahu A’ lam bis Shawab...
M. Upaya Pemeliharaan Aliran
Sungi Cibanten
Keadaan sungai cibanten saat ini sangatlah memprihatinkan, dilihat dari
kebersihannya yang tidaklah enak untuk di pandang. Air tersebut memang sangat
bermanfaat bagi sebagian orang, baik di gunakan untuk pengairan sawah
masyarakat, juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi ataupun
mencuci. Meskipun demikian mereka tidak menghiraukan dengan kebersihanm
lingkungan sungai tersebut. Tidak ada upaya atau pun gerakan dari masyarakat
untuk bergotong-royong membersihkan aliran sungai tersebut.
Himabauan dari RT setempat untuk melaksanakan gotong-royong memang ada,
akan tetapi yang turut serta membersihkan hanyalah beberapa orang saja, bahkan
terkadang tidak ada satu orang pun yang ikut terjun langsung ke sungai. Mereka
sadar akan pentingnya kebersihan air tersebut, akan tetapi tidak ada upaya
maupun tindakan dari masyarakat untuk membersihkannya.
Sebagian masyarakat kampung odel memang tidak membuang sampah ke sungai,
mereka biasa membuangnya ke kebun lalu membakarnya. Saat tim kami menanyakan
dari mana sampah-sampah itu berasal, mereka menjawab bahwa sampah tersebut
merupakan kiriman dari limbah pabrik yang berada di kampung sebelah.
Meskipun demikian, memang tidak dipungkiri lagi, bahwa ada saja sebagian
masyarakat yang memang membuang sampah ke sungai, dengan dalih tidak adanya
lahan sebagai tempat pembuangan sampah. Di tambah lagi dengan tidak adanya
larangan dari aparatur pemerintah setempat baik berupa lisan maupun tulisan.
Bahkan himbauan berupa plang atau spanduk tidak di temukan disana. Karena tidak
adanya larangan, maka tidak berlaku juga sanksi.
Sebagian masyarakat memanfaatkan air sungai tersebut untuk kebutuhan
sehari-hari seperti mandi ataupun mencuci, tetapi tidak untuk dikonsumsi. Air
tersebut tidak layak untuk dikonsumsi, karena memang sudah sangat tercemari
oleh berbagai macam hal.
Tidak ada upaya untuk menjaga, melindungi maupun membersihkan aliran sungai cibanten
ini, yang dilakukan oleh masyarakat. Mungkin, hanya sebatas kesadaran
masing-masing masyarakat saja untuk tidak mencemari air tersebut.
O. Makna Sungai Bagi Masyarakat
Sepanjang Aliran Sungai Cibanten
Masyarakat menyadari akan pentingnya air. Termasuk juga air sungai
cibanten ini. Bagi masyarakat yang menggunakan air sungai cibanten tersebut,
mereka mengatakan itu sangat bermanfaat, tapi sebaliknya, bagi yang tidak
menggunakannya, beliau mengatakan tidak bermanfaat.
Masyarakat menyadari akan pentingnya memelihara kebersihan sungai
cibanten, akan tetapi tidak ada upaya yang mereka lakukan guna menjaga
kebersihan tersebut. Meskipun ada sebagian kecil masyarakat yang menjaga nya
dengan tidak membuang sampah ke sungai tersebut.
P. Tinggalan Kepurbakalaan
Di kampung odel ini, terdapat satu buah kitab yang merupakan peninggalan
zaman dahulu. Kitab tersebut bernama “Shahibur Riwayat”. Buku tersebut berisi
tentang Dzikiran para ahli sufi, ilmu pengobatan, ilmu Ghaib dan penyaksian
kepada banten. Kitab ini ditulis oleh seorang ponggawa banten yang bernama
“Cili Wulung”.
Karena tidak terurus dengan baik, sehingga keadaan kitabnya sekarang ini
sudah sangat rapuh, bahkan kain pembungkusnya sudah rapet dan tidak bisa
dibuka. Kitabnya sendiripun sudah kering seperti kerupuk, karena memang terkena
panas dan hujan. Kitab itu saat ini berada di rumah bapak Masnun.