Kamis, 18 Februari 2016

Expedisi Sungai Cibanten : Asal - Usul Kampung Odel



A.  Sejarah dan Asal-Usul Masyarakat
Kampung ini dinamakan kampung Odel. Nama ini diambil dari seorang tokoh yang bernama Ki Gede Odel, yang hidup pada masa pangeran tumenggung syekh agus zakaria razak ibnu sulthan maulana muhammad syifa zainul ‘alimin ibnu sulthan maulana  hasanuddin, bupati kedua banten, yaitu pada tahun 1828 M. Bupati banten ini memiliki empat orang ponggawa, yaitu : Kigede odel, ki gireng, ki gule geseng, dan ki gembol. Kata “ Ki” disini memiliki makna bisa kyai ataupun sesepuh.
Pada tahun 1830 M odel berdiri. Entah terkena sebab apa, kampung odel ini berpindah ke pinggir sungai nama nya pangkalan nangka atau kali wasiat. Kemudian berpindah lagi kekampung yang sekarang karena terkena banjir, yaitu pada tahun 1838 M hingga sekarang. Semenjak bupati banten ke sepuluh meninggal, sudah dimakamkan di kampung ini yaitu dipemakaman pangeran “Mulyasrama” yaitu orang kerajaan daerah pulau jawa.
Tokoh pertama yang mendiami kampung ini adalah ki gede odel itu sendiri dengan beberapa orang lainnya. Sedangkan orang yang menyebutkan pertama kali ini adalah kampung odel, yaitu anaknya sendiri Sukmaraga dan Sukmajati. (menurut penuturan sang nara sumber, Bpk Masnun yang beliau ketahui dari H. Arsa, sesepuh pada masa itu).
Mayoritas penduduk kampung odel ini yaitu asli dari sini, hanya saja ada sebagian yang datang dari luar, termasuk juga bapak Masnun sendiri ( sang Nara sumber).
D. Pendidikan Masyarakat
Pandangan masyarakat terhadap pendidikan sangat lah kurang. Bisa terhitung anak-anak yang melanjutkan sekolah ke tingkat menengah atas. Bahkan tidak ada satu orang pun yang tercatat sebagai sebagai mahasiswa disana. Orientasi masyarakat pun hanya terpaku pada ijazah, bukan dari seberapa besar atau pun seberapa banyak ilmu yang didapat. Menurut data yang kami terima dari kelurahan setempat, persentase kelulusan pendidikan masyarakat kampung odel ini adalah : 60 % lulusan SD, 20 % lulusan SMP,  dan 20 % lulusan SLTA. Dapat kita simpulkan dari data tersebut, bahwa minat masyarakat terhadap pendidikan sangatlah minik sekali.
Selepas mereka lulus dari sekolah tersebut, mereka tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, melainkan mereka beradu nasib di tempat mereka sendiri dengan menjadi kuli-kuli, atau pun menjadi karyawan di suatu pabrik. Faktor yang menjadi penyebab mereka tidak melanjutkan sekolah, menurut kami bisa dikarenakan dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Adapun faktor internal meliputi keinginan seorang anak tersebut terhadap ilmu pengetahuan, sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan, baik keluarga maupun masyarakat. Bisa saja anak tidak melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi keluarga, atau mungkin karena melihat teman-temannya yang lebih memilih untuk bekerja.
Adapun pendidikan agama, memang ditanamkan sejak dini. Baik bersifat non formal, seperti pengajian Al-Qur’an ba’da maghrib atau pun yang bersifat semi formal seperti sekolah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Selain itu juga ada sebagian anak yang memang pergi ke kampung sebelah atau ke luar daerah untuk menuntut ilmu di pesantren, seperti ke tebu ireng, jawa.
Selain itu juga, dikampung ini terdapat pengajian yang memang diperuntukkan bagi kaum ibu dan bapak-bapak, yang dipimpin oleh Ustad Sayuti. Bentuk pengajiannya menggunakan metode ceramah, dengan materi pengajian yang berbeda-beda baik itu mengenai ilmu fiqih, akhlaq, ibadah dan lain sebagainya. Pengajian ini rutin dilakukan setiap satu minggu sekali.
E. Bahasa
Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari  adalah bahasa jawa banten, bahasa ini sejak dulu lahir dan menjadi warisan budaya banten, bahasa ini juga kadang-kadang di gunakan oleh anak-anak di sekolah, pada saat kami mewawancarapun mereka lebih banyak menggunakan bahasa jawa dibanding kan dengan bahasa indonesia. Menurut mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia masih di bilang sulit, kaku dan belum lancar, sehingga mereka lebih terbiasa dengan bahasa daerah sendiri. Ini menunjukan bahwa bahasa jawa bantenlah yang sering di gunakan sehari-hari untuk berkomunikasi.
Menurut sumber yang kami wawancarai persentase orang tua yang tidak bisa bahasa  Indonesia itu kira-kira 80% ini menandakan bahasa Indonesia kurang di minati, bahasa yang di gunakan itu bepengaruh dari lingkungannya, kondisi bahasa jawa banten masih digunakan dulu dan sekarang , meskipun ada yang bahasanya campuran bahasa Indonesia dan jawa banten saat sedang di wawancarai.

F. Sistem Mata Pencarian
Kondisi ekonomi rata-rata di kampung odel itu bisa di katakan menengah ke bawah , pekerjaan yang paling banyak digeluti itu buruh. Seperti buruh panglong(buruh kayu) pekerjaan inilah yang sehari-hari sebagian masyarakat odel kerjakan Karena di sekitar ksampung ini banyak pabrik kayu itulah alasan kenapa masyarakat odel memilih bekerja panglong kayu dibandingkan petani dan yang lainya,
Persentase pekerjaan dikampung ini  70% buruh, 15% karyawan dan 15% petani, berbeda dari kampung-kampung lain pekerjaan buruh lah yang paling di minati bukan petani, pekerjaan ibu-ibu hampir  rata-rata ibu rumah tangga dan ada juga karyawan tapi itu hanya beberapa saja, penghasilan dari buruh itu kira-kira 20 ribu per hari  atau kurang lebih 600 ribu perbulan, dari penghasilan tersebut, yang bisa dikatakan sangat lah kurang, mereka dituntut untuk menggunakannya dengan sebaik mungkin, sehingga dipaksa untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka sehari-hari.     
             

G. Pandangan Hidup dan Adat Istiadat
Mengenai pandangan hidup, masyarakat percaya dengan sejarah odel. Ki gede odel memiliki dua orang anak, sukma raga dan sukma jati. Sukma raga memiliki istri yang bernama nyi Karinah. Suatu hari, saat nyi karinah hamil, ia mengidam minta buah nangka kepada suaminya, si istri mengatakan bahwa itu adalah keinginan si jabang bayi. Sukma raga tidak percaya masa seorang istri yang sedang hamil minta apa-apa yang tidak pada waktu musimnya. Kemudian ki gede odel mencarikan  buah nangka tersebut untuk calon cucu nya. Sukma raga marah, karena tidak percaya maka akhirnya ia membedel (membedah) perut istrinya, dan memang benar si jabang bayi tersebut sedang mengemut buah nangka tadi, barulah sukma raga percaya dan menutup kembali perut istrinya. Saat proses melahirkan, nyawa sang bayi dan istrinya tidak dapat tertolong, kedua nya meninggal dunia. Dan hingga saat ini, nyi karinah tersebut sering datang dan mengganggu orang-orang yang hendak melahirkan. Ia (nyi karinah) sering masuk kedalam jiwa seseorang, yang tentunya hanya orang-orang yang lemah keimanannya yang bisa kerasukan itu, maka dari itu, benteng keimanan seseorang haruslah diperkuat sehingga terhindar dari gangguan dan bahaya tersebut.
Mengenai adat istiadat di kampong Odel ini, ada  beberapa adat istiadat yang hingga saat ini, merupakan hal yang harus dan mesti dilakukan. Seperti misalnya ketika hendak memasang pondasi rumah, nyuguh tamu (menyambut kelahiran seorang bayi ), acara pernikahan, bebaksan, dan lain sebagainya.
Ketika hendak memasang pondasi rumah, maka sebelum memasang pondasi  tersebut harus di bacakan syekh terlebih dahulu. Adapun isi bacaan Syekh tersebut merupakan rangkaian puji-pujian , syair-syair dan do’a-do’a. tujuan dari acara tersebut adalah tidak lain sebagai do’a mengharapkan kebaikan, kelancaran dan keberkahan.
Ada juga yang nama nya “nyuguh tamu”, yaitu acara berupa riungan yang dilakukan ketika lahirnya seorang bayi. Nyuguh tamu tersebut artinya menyambut kedatangan tamu baru, yaitu sang anak bayi yang baru lahir tersebut.
Selain itu juga terdapat sutau tradisi yang namanya “Bebaksan”, yaitu arak-arakan seorang anak kecil yang akan disunat. Ketika arak-arakan tersebut, sang anak digendong oleh orang dewasa yang memakai kukusan-yaitu alat yang berbentuk kerucut yang biasa digunakan untuk memasak nasi, selagi di arak itu, sang anak juga sambil di seborin dengan air, dan kemudian ada saweran.
H. kesenian dan Tradisi sebagian lisan
Adapun kesenian yang ada di kampong odel, yaitu berupa kesenian Rudat, yang dimainkan oleh 12 orang, seni bela diri,tradisi dzikiran dan baca syekh. Pada masa lampau kesenian atau tradisi dzikiran ini lah yang paling dibesar-besarkan.
Dzikiran ini merupakan rangkaian lafadz tahlil, tasbih,tahmid dan asmaul husna yang digabung. Seperti :
لااله الاالله سبحان الله والحمد لله يا رحمن يا رحيم
لااله الا الله سبحان الله والحمد لله يا حي يا قيوم
Dan seterusnya dengan asmaul husna yang berbeda-beda dengan jumlah yang beragam pula. Dzikiran ini tidak dibatasi waktu pelaksanaannya, baik siang ataupun malam. Dzikiran ini dilakukan untuk penenangan warga keseluruh masyarakat banten. Dalam suatu kitab do’a ini di sebut sebagai do’a Kanzul ‘Arsy. Akan tetapi seiring berjalannya waktu tradisi ini sedikit demi sedikit menghilang. Yang biasanya dibaca bersama-dengan jumlah yang sangat banyak, akan tetapi pada masa sekarang mungkin hanya segelincir orang saja yang masih mengamalkannya.
*        Permainan Rakyat
     Tidak ada suatu permainan rakyat khusus yang biasa di mainkan oleh masyarakat di kampung odel saat ini. Bahkan dari sekian banyaknya permainan untuk anak kecilpun, yang bertahan dan biasa dilakukan oleh mereka saat ini hanyalah sebatas permainan sepak bola. Sedih memang rasanya anak-anak zaman sekarang lebih tertarik dengan permainan-permainan yang berbau modern, seperti bermain Play Station (PS), gadget dan lain sebagainya, sehingga mereka tidak mengenal dengan permainan-permainan rakyat zaman dulu.
*        Makanan Tradisional
     Terdapat berbagai makanan yang biasa di buat dan dihidangkan pada saat-saat tertentu. Baik berupa kue-kue ataupun masakan yang lainnya. Waktu penyediaan nyapun bervariasi. Di hari raya, baik idul fitri maupun idul adha, makanan atau kue yang biasa mereka buat seperti : gemblong, rangginang,ranggining ataupun kue-kue kering yang lainnya semisal kripik-kripik dan lain sebagainya.
     Untuk perayaan hari-hari tertentu, semisal acara pernikahan, Perayaan Hari Besar Islam ( PHBI ) kue yang pasti akan ditemui yaitu gembleng, apem dan berbagai kue yang lainnya.
Gemblong yaitu makanan yang terbuat dari beras ketan yang di campur dengan parutan kelapa. Cara pembuatannya cukup mudah hanya saja membutuhkan tenaga yang luar biasa, karena untuk menumbuk campuran tersebut hingga halus tanpa butiran biji beras tersebut.
     Adapun Gembleng adalah kue yang berbahan dasar tepung beras, yang dicampur dengan tepung aci, garam,gula, air santan dan daun pandan sebagai pengharum makanan.
Sedangkan Apem, terbuat dari tepung beras, yang dicampur dengan tape, air santan, gula dan daun pandan.
     Adapun makanan atau masakan khusus yang biasa di suguhkan pada acara-acara seperti walimahan, syukuran ataupun resepsi pernikahan, yaitu “ Rabbeg “. Rabbeg yaitu masakan yang berbahan dasar daging kambing yang di lumuri dengan berbagai macam rempah-rempah sehingga menjadikan cita rasa yang sangat nikmat. Jenis makanan yang satu ini merupakan keharusan bagi si pemilik hajat untuk menyediakannya. Rasanya kurang afdhal bila menu rabbeg ini tidak tersedia disuatu acara.
*        Pengobatan Tradisional
Adapun mengenai pengobatan, sebagian masyarakat ada yang masih menggunakan obat-obatan tradisional yang memang mereka percaya dapat menyembuhkan penyakitnya, selain itu juga ada yang pergi ke klinik, tidak menggunakan obat tradisional. Akan tetapi bila kaitannya dengan hal-hal yang ghaib, mereka juga masih percaya dengan seorang dukun. Dukun tersebut, selain dipercaya menyembuhkan penyakit ia juga dipercaya mampu membantu orang-orang yang kehilangan atau kecurian.

I.         Tabu atau Pantangan atau Pamali
Seiring berjalan nya waktu, hal-hal yang dianggap tabu oleh masyarakat pada masa lampau, tidak berlaku pada masa sekarang. Misalnya seorang perempuan tidak boleh keluar rumah dimalam hari, dengan alasan yang tidak jelas, mereka hanya mengatakan pamali saja. Selain itu juga sikap masyarakat terhadap suatu makam, biasa nya orang tidak akan berbuat hal-hal yang ganduh atau pun kurang sopan karena khawatir mengganggu, tetapi di masa sekarang masyrakat terkesan cuek bebek dengan hal itu. Suatu contoh, biasa nya orang tidak berani melakukan hal-hal yang kurang baik di sekitar makam, tetapi sekarang dengan santai nya mereka mengadakan orgen ( dangdutan ) di sekitar makam.
Akan tetapi ada beberapa hal yang masih dianggap tabu oleh masyarakat hingga saat ini, yaitu khusus nya bagi kaum perempuan yang sedang hamil. Seorang wanita yang sedang hamil tidak boleh:
§      Keluar rumah di waktu Dzuhur dan Magrib
§      Duduk di depan pintu
§      Melewati kayu yang menghalangi langkah kaki
§      Melewati pohon “ kecacil” yang tumbuh di pinggir kali, dan
§      Tidak boleh bepergian sendiri, karena khawatir dibawa syaitan.
Selain larangan tersebut, wanita hamil juga di haruskan untuk membawa gunting, dengan tujuan agar terhindar dari bahaya. Selain itu juga, sang suami dari istri yang sedang hamil tersebut, tidak boleh melakukan hal-hal dengan sembarangan karena khawatir akan berimbas bagi kesehatan si bayi mereka.
Hal yang dianggap tabu atau pantangan lainnya, yaitu : saat acara ngusur tanah (meninggal nya seseorang ), tidak boleh membuat sayur menggunakan kacang panjang. Hal ini menurut mereka dikhawatirkan makam kubur nya akan terus memanjang. Wallahu A’ lam bis Shawab...
M. Upaya Pemeliharaan Aliran Sungi Cibanten
Keadaan sungai cibanten saat ini sangatlah memprihatinkan, dilihat dari kebersihannya yang tidaklah enak untuk di pandang. Air tersebut memang sangat bermanfaat bagi sebagian orang, baik di gunakan untuk pengairan sawah masyarakat, juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi ataupun mencuci. Meskipun demikian mereka tidak menghiraukan dengan kebersihanm lingkungan sungai tersebut. Tidak ada upaya atau pun gerakan dari masyarakat untuk bergotong-royong membersihkan aliran sungai tersebut.
Himabauan dari RT setempat untuk melaksanakan gotong-royong memang ada, akan tetapi yang turut serta membersihkan hanyalah beberapa orang saja, bahkan terkadang tidak ada satu orang pun yang ikut terjun langsung ke sungai. Mereka sadar akan pentingnya kebersihan air tersebut, akan tetapi tidak ada upaya maupun tindakan dari masyarakat untuk membersihkannya.
Sebagian masyarakat kampung odel memang tidak membuang sampah ke sungai, mereka biasa membuangnya ke kebun lalu membakarnya. Saat tim kami menanyakan dari mana sampah-sampah itu berasal, mereka menjawab bahwa sampah tersebut merupakan kiriman dari limbah pabrik yang berada di kampung sebelah.
Meskipun demikian, memang tidak dipungkiri lagi, bahwa ada saja sebagian masyarakat yang memang membuang sampah ke sungai, dengan dalih tidak adanya lahan sebagai tempat pembuangan sampah. Di tambah lagi dengan tidak adanya larangan dari aparatur pemerintah setempat baik berupa lisan maupun tulisan. Bahkan himbauan berupa plang atau spanduk tidak di temukan disana. Karena tidak adanya larangan, maka tidak berlaku juga sanksi.
Sebagian masyarakat memanfaatkan air sungai tersebut untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi ataupun mencuci, tetapi tidak untuk dikonsumsi. Air tersebut tidak layak untuk dikonsumsi, karena memang sudah sangat tercemari oleh berbagai macam hal.
Tidak ada upaya untuk menjaga, melindungi  maupun membersihkan aliran sungai cibanten ini, yang dilakukan oleh masyarakat. Mungkin, hanya sebatas kesadaran masing-masing masyarakat saja untuk tidak mencemari air tersebut.
O. Makna Sungai Bagi Masyarakat Sepanjang Aliran Sungai Cibanten
Masyarakat menyadari akan pentingnya air. Termasuk juga air sungai cibanten ini. Bagi masyarakat yang menggunakan air sungai cibanten tersebut, mereka mengatakan itu sangat bermanfaat, tapi sebaliknya, bagi yang tidak menggunakannya, beliau mengatakan tidak bermanfaat.
Masyarakat menyadari akan pentingnya memelihara kebersihan sungai cibanten, akan tetapi tidak ada upaya yang mereka lakukan guna menjaga kebersihan tersebut. Meskipun ada sebagian kecil masyarakat yang menjaga nya dengan tidak membuang sampah ke sungai tersebut.
P. Tinggalan Kepurbakalaan
Di kampung odel ini, terdapat satu buah kitab yang merupakan peninggalan zaman dahulu. Kitab tersebut bernama “Shahibur Riwayat”. Buku tersebut berisi tentang Dzikiran para ahli sufi, ilmu pengobatan, ilmu Ghaib dan penyaksian kepada banten. Kitab ini ditulis oleh seorang ponggawa banten yang bernama “Cili Wulung”.
Karena tidak terurus dengan baik, sehingga keadaan kitabnya sekarang ini sudah sangat rapuh, bahkan kain pembungkusnya sudah rapet dan tidak bisa dibuka. Kitabnya sendiripun sudah kering seperti kerupuk, karena memang terkena panas dan hujan. Kitab itu saat ini berada di rumah bapak Masnun.


Sabtu, 13 Februari 2016

Danau Tasikardi



A.    Sejarah Danau Tasikardi
Danau Tasikardi adalah salah satu Danau yang memilik sejarah panjang dibuatnya Danua tersebut. Danau Tasikardi ini dibuat oleh tangan manusia pada zaman dahulu pada masa pemerintahan Sultha Maulana Yusuf  dan Sulthan Ageng Tritayasa, Danau ini dibuat atas dasar wasiat dari bapaknya untuk mengurangi penyakit yang timbul pada saat itu, juga untuk mengairi kolam yang berada pada Keraton Surosowan , dan juga untuk mengairi persawahan masyarakat sekitar. Dari segi fungsi dan kegunaannya Danau ini memang sangat berfungsi untuk kelangsungan hidup manusia pada saat itu. [1]Sekitar tahun 1570-1580 Masehi pada masa pemerintahan Sulthan Maulana Yusuf  Danau ini di buat dengan cara alat-alat sederhana semamacam cangkul dan sebagainya, akan tetapi alat yang digunakan pun masih tidak sesempurna dengan saat ini yang kita lihat. Danau tasikardi berasal dari bahasa sunda yaitu Tasik;danau dan Ardi;Buatan , dan kalo kita sambung yaitu Danau Buatan, memang Danau ini asli buatan manusia saat itu, dari sumber juga ada yang mengatakan sekitar 2000 ribu orang ikut dalam pembuatan Danau tersebut, yang merupakan masyarakat sekitar dan sebagian orang belanda yang membantu dalam hal itu, karena memang belanda juga ingin membantu guna kelangsungan hidup mereka dan meminimalisir penyakit yang ada.
Berdasarkan sejarahnya danau ini dibuat pula untuk tempat persistirahatan sulthan-sulthan dan mengasingkan diri ketika sulthan merasa bosan di keraton surosowan. Danau ini mempunyai air dari aliran sungai Cibanten dan kemudian dialirkan ke Pengindelan yang juga ada tahapan dalam pengindelan ini, pengindelan adalah salah satu alat penyaringan air yang sengaja dibuat untuk menyaring air yang berasal  dari Danau tasikardi tersebut. Karena memang air yang berada pada Danau Tasikardi keruh ataupun berwarna kurning, oleh karenanya air yang akan dilarikan ke Keraton Surosowan haruslah bersih dan jernih karena untuk digunakan sebagai Air bersih untuk masyarakat sekitar dan Kolam loro dengok di Keraton Surosowan.
Ada sebuah tempat ataupun pulau buatan yang berada di tengah-tengah Danau Tasikardi yang disebut sebagai Balai Kambang yang artinya Tempat Peristirahatan, disini pada sejarahnya dijelaskan sebagai tempat istirahat para Sulthan beserta keluarganya guna untuk mengasingkan diri dan rekreasi jikalau mereka bosan berada di Keraton Surosowan, dan ada juga yang mengatakan sebagai tempat mengasingkan diri Sulthan karena memang keadaan di Keraton Surosowan sangatlah bising ataupun tidak kondusif dalam merenung/beristiqomah jadi dibuatlah Danau Tasikardi dan Balai Kambang tersebut yang banyak mempunyai beberapa kegunaaan dan manfaat baik untuk keluarga Sulthan maupun masyarakat sekitar. Ada beberapa sebuah tempat peninggalan yang ada di pulau buatan tersebut seperti kolam renang dan sebagainya. Menurut ahli arkeolog yang kita tanyakan secara langsung bahwa beliau mengatakan “ dalam ilmu arkeolog, seorang arkeolog tidak dapat memastikan sebuah bangunan yang berada pada tempat Balai Kambang tersebut tidak bisa dikatakan sebuah tempat pemandian para Sulthan-Sulthan dan lain sebagainya, Karena memang kita tidak tahu pasti bagaimana kejadian sebenarnya dan tidak memiliki sumber yang valid untuk dikatakan bahwa bangunan tersebut adalah tempat pemandian Sulthan/tempat peristirahatan Sulthan. Pulau buatan tersebut berbentuk segiempat  dan diberi tembok keliling di setiap sisinya, terdapat tangga untuk naik di sisi sebelah utara. Tapi yang tersisa saat ini hanyalah pondasi bangunan yang berdiri dari batu bata. Sebuah kolam pemandian terletak di sebelah timur dengan beberapa terap anak tangga untuk menuju kebawah, dan ada beberapa tempat seperti panampungan air, pendopo, kamar dan tempat mandi keluarga sulthan.


B.     Deskripsi Bangunan Danau Tasikardi
Danau Tasikardi adalah danau buatan dengan luas 5 hektar dan bagian bawahnya dilapisi ubin dan bata. Di tengah danau terdapat pulau yang berbentuk persegi dengan panjang masing-masing sisi 40,3 cm, jarak dari bibir danau ke pulau atau yang sering disebut balekambang adalah 200 m.
Di dalam balekambang tersebut terdapat sebuah sisa bangunan dengan lebar 7,70 cm dan panjang 31,30 cm, di dalam bangunan tersebut terdapat ruangan-ruangan dengan panjang 19 m dan lebar 8,53 cm. di balekambang itu juga terdapat sebuah kolam dengan panjang 6,40 cm, lebar 5 m, kedalaman kolam tersebut mencapai 1,40 cm dan mempunyai 8 anak tangga.

C.     Tujuan Pembuatan Danau Tasikardi
Tasikardi adalah sebuah danau yang berada di kabupaten serang tepatnya di kecamatan Kramat watu dimana pada zaman dahulu tempat ini dijadikan sebagai tempat rekreasi sultan-sultan dan keluarganya, tempat pemandian para putri kerajaan, dan tempat ini juga berfungsi sebagai penampungan air.
Adapun tujuan umum yang melatarbelakangi dibuatnya danau tasikardi adalah, yang pertama sebagai penampung air dari Sungai Cibanten yang
digunakan untuk mengairi areal persawahan, dan yang kedua adalah
untuk memenuhi pasokan air bagi keluarga keraton dan masyarakat
sekitarnya. Jika ditelusuri lebih lanjut ada beberapa tujuan khusus yang melatarbelakangi dibuatnya danau tasikardi, antara lain :

1.      Segi Ekonomi
Bila kita menengok sejarah , danau ini merupakan bukti nyata bahwa Kerajaan Banten dimasa kejayaanya terutama di masa Sultan Ageng Tirtayasa sangat memperhatikan masalah pengairan. Dari danau inilah air dialirkan kepersawahan penduduk untuk meningkatkan hasil pertanian. Karena pembangunan dibidang pengairan ini pulalah beliau dijuluki Tirtayasa yang artinya kurang lebih Sang Penguasa Air. Air danau tasikardi yang berasal dari Sungai Cibanten, Sungai Cibanten yang berasal dari Gunung Karang, sekitar 30km di selatan, terbagi menjadi dua sebelum mengalir ke laut. Kedua muara sungai ini membentuk dua pelabuhan yaitu pelabuhan internasional di sebelah barat dan pelabuhan lokal yang disebut karangantu(ClaudeGuillot,2008:66). Yang digunakan untuk mengairi areal persawahan, danau ini juga dimanfaatkan
untuk memenuhi pasokan air bagi keluarga keraton dan masyarakat
sekitarnya. Air Danau Tasikardi dialirkan ke Keraton Surosowon melalui
pipa-pipa yang terbuat dari tanah liat berdiameter 2-40 sentimeter.
Sebelum digunakan, air danau tersebut terlebih dahulu disaring dan
diendapkan di tempat penyaringan khusus yang dikenal dengan sebutan
pengindelan abang (penyaringan merah), pengindelan putih
(penyaringan putih), dan pengindelan emas (penyaringan emas).

2.      Segi Sosial
Kegiatan sosial masyarakat sekitar tasikardi sangat merasakan dampaknya saat dibuatnya danau tasikardi ini, masyarakat banyak memanfaatkan air danau tasikardi ini untuk mengaliri persawahan mereka dan masyarakat pada saat itu hidup sejahtera. Dan merka tidak perlu menunggu hujan untuk memperoleh air untuk mengaliri persawahannya, Kehidupan masyarakat Banten yang memiliki latar belakang dalam dunia pelayaran, perdagangan dan pertanian mengakibatkan masyarakat Banten memiliki jiwa bebas dan lebih bersifat terbuka, dengan demikian mereka dapat bergaul dengan pedagang-pedagang dari berbagai bangsa yang lain. Para pedagang lain tersebut banyak yang menetap dan mendirikan serta membangun perkampungan di Banten, seperti perkampungan Keling, perkampungan Pekoyan (Arab), perkampungan Pecinan (Cina) dan sebagainya. Selain perkampungan tersebut  ada pula perkampungan yang dibentuk berdasarkan pekerjaan seperti Kampung Pande (para pandai besi),  Kampung Panjunan (pembuat pecah belah) dan kampung Kauman (para ulama).  Dan kehidupan sosial masyarakat Banten memiliki landasan yang mengacu pada ajaran-ajaran yang berlaku dan sesuai dengan agama Islam, sehingga kehidupan masyarakatnya hidup secara teratur.

3.      Segi Politik
Dalam pembuatan danau ini pasti ada tujuan terselubung dari pihak belanda, karena pada waktu itu kondisi banten lama yang terletak di pinggir pantai, memiliki lingkungan tanah yang banyak menyerap air laut. Tidak ditatanya perkotaan dengan baik, mengakibatkan kota menjadi becek dan sungaipun selalu kotor. Kondisi perkotaan semacam itu bukan merupakan pemukiman yang sehat. Sehingga berjangkitnya penyakit, selalu bersifat epidemis menjadi wabah yang menular. Korban-korban yang meninggal, tidak hanya menyerang rakyat biasa melainkan juga diderita oleh orang-orang Belanda yang bermukim di Benteng Speelwijk. Dan alasan mengapa belanda mau membatu Sultan pada waktu itu dalam pembuatan danau adalah karena selain orang-orang belanda yang berada speelwijk terjangkit wabah juga mereka memanfaatkan hasil rempah-rempah berupa lada yang tidak lama lagi akan panen, waktu panen lada harga akan jauh lebih murah
FUNGSI DULU DAN SEKARANG
A.    Dahulu
Danau tasikardi mempunyai beberapa fungsi yaitu :
1.      Danau tasikardi digunakan sebagai tempat istirahat Sulthan bersama keluarganya.
2.      Danau tasikradi dijadikan sebagai tempat penampungan air dari sungai Cibanten.
3.      Danau tasikardi digunakan untuk mengairi areal persawahan sehingga pada masa Sulthan Maulana Yusuf area persawahan di daerah banten sangat subur sekali sehingga masyarakat bisa memanen padinya dua kali dalam satu panen.
4.      Danau tasikardi juga berfungsi sebagai pasokan air bagi keluarga keraton. Air danau tasikardi dialirkan ke Kerataon Surosowan melalui pipa-pipa yang terbuat dari tanah liat yang dibakar, sehingga tanah liat tersebut menjadi merah, pipa-pipa tersebut berdiameter 2-40 cm sebelum air danau tasikardi digunakan, terlebih dahulu air tersebut di tampung di tempat di penyaringan ataupun juga disebut pengindelan, pengindelan ini mempunyai tiga tahap yang pertama pengindelan abang, pengindelan putih, dan pengindelan emas.

B.     Sekarang
Danau tasikardi saat ini berfungsi untuk taman wisata, dan danau ini juga sudah dipugar dengan beberapa bangunan yang berupa saung-saung, pagar, pintu masuk dan lain sebagainya. Danau tasikardi saat ini di kenal dengan taman wisata bebek-bebekan dan untuk mengelilingi sekitar danau ataupun juga menyebrangi danau untuk ke pulau buatan Balai Kambang yang mempunyai sejarah tersebut ada banyak bebek-bebekan yang memang telah di sediakan oleh pengurus danau tersebut. Danau ini memang sangat cocok untuk kumpul bersama keluarga dan sebagainya, karena memang suasana dan tempatnya berada pada tengah-tengah persawahan yang udaranya sangat sejuk.


[1] Lukman Hakim, Banten Dalam Perjalanan Journalistik, Banten Herritage, Serang, 2006, Hlm 119.