Kamis, 18 Februari 2016

Expedisi Sungai Cibanten : Asal - Usul Kampung Odel



A.  Sejarah dan Asal-Usul Masyarakat
Kampung ini dinamakan kampung Odel. Nama ini diambil dari seorang tokoh yang bernama Ki Gede Odel, yang hidup pada masa pangeran tumenggung syekh agus zakaria razak ibnu sulthan maulana muhammad syifa zainul ‘alimin ibnu sulthan maulana  hasanuddin, bupati kedua banten, yaitu pada tahun 1828 M. Bupati banten ini memiliki empat orang ponggawa, yaitu : Kigede odel, ki gireng, ki gule geseng, dan ki gembol. Kata “ Ki” disini memiliki makna bisa kyai ataupun sesepuh.
Pada tahun 1830 M odel berdiri. Entah terkena sebab apa, kampung odel ini berpindah ke pinggir sungai nama nya pangkalan nangka atau kali wasiat. Kemudian berpindah lagi kekampung yang sekarang karena terkena banjir, yaitu pada tahun 1838 M hingga sekarang. Semenjak bupati banten ke sepuluh meninggal, sudah dimakamkan di kampung ini yaitu dipemakaman pangeran “Mulyasrama” yaitu orang kerajaan daerah pulau jawa.
Tokoh pertama yang mendiami kampung ini adalah ki gede odel itu sendiri dengan beberapa orang lainnya. Sedangkan orang yang menyebutkan pertama kali ini adalah kampung odel, yaitu anaknya sendiri Sukmaraga dan Sukmajati. (menurut penuturan sang nara sumber, Bpk Masnun yang beliau ketahui dari H. Arsa, sesepuh pada masa itu).
Mayoritas penduduk kampung odel ini yaitu asli dari sini, hanya saja ada sebagian yang datang dari luar, termasuk juga bapak Masnun sendiri ( sang Nara sumber).
D. Pendidikan Masyarakat
Pandangan masyarakat terhadap pendidikan sangat lah kurang. Bisa terhitung anak-anak yang melanjutkan sekolah ke tingkat menengah atas. Bahkan tidak ada satu orang pun yang tercatat sebagai sebagai mahasiswa disana. Orientasi masyarakat pun hanya terpaku pada ijazah, bukan dari seberapa besar atau pun seberapa banyak ilmu yang didapat. Menurut data yang kami terima dari kelurahan setempat, persentase kelulusan pendidikan masyarakat kampung odel ini adalah : 60 % lulusan SD, 20 % lulusan SMP,  dan 20 % lulusan SLTA. Dapat kita simpulkan dari data tersebut, bahwa minat masyarakat terhadap pendidikan sangatlah minik sekali.
Selepas mereka lulus dari sekolah tersebut, mereka tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, melainkan mereka beradu nasib di tempat mereka sendiri dengan menjadi kuli-kuli, atau pun menjadi karyawan di suatu pabrik. Faktor yang menjadi penyebab mereka tidak melanjutkan sekolah, menurut kami bisa dikarenakan dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Adapun faktor internal meliputi keinginan seorang anak tersebut terhadap ilmu pengetahuan, sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan, baik keluarga maupun masyarakat. Bisa saja anak tidak melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi keluarga, atau mungkin karena melihat teman-temannya yang lebih memilih untuk bekerja.
Adapun pendidikan agama, memang ditanamkan sejak dini. Baik bersifat non formal, seperti pengajian Al-Qur’an ba’da maghrib atau pun yang bersifat semi formal seperti sekolah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Selain itu juga ada sebagian anak yang memang pergi ke kampung sebelah atau ke luar daerah untuk menuntut ilmu di pesantren, seperti ke tebu ireng, jawa.
Selain itu juga, dikampung ini terdapat pengajian yang memang diperuntukkan bagi kaum ibu dan bapak-bapak, yang dipimpin oleh Ustad Sayuti. Bentuk pengajiannya menggunakan metode ceramah, dengan materi pengajian yang berbeda-beda baik itu mengenai ilmu fiqih, akhlaq, ibadah dan lain sebagainya. Pengajian ini rutin dilakukan setiap satu minggu sekali.
E. Bahasa
Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari  adalah bahasa jawa banten, bahasa ini sejak dulu lahir dan menjadi warisan budaya banten, bahasa ini juga kadang-kadang di gunakan oleh anak-anak di sekolah, pada saat kami mewawancarapun mereka lebih banyak menggunakan bahasa jawa dibanding kan dengan bahasa indonesia. Menurut mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia masih di bilang sulit, kaku dan belum lancar, sehingga mereka lebih terbiasa dengan bahasa daerah sendiri. Ini menunjukan bahwa bahasa jawa bantenlah yang sering di gunakan sehari-hari untuk berkomunikasi.
Menurut sumber yang kami wawancarai persentase orang tua yang tidak bisa bahasa  Indonesia itu kira-kira 80% ini menandakan bahasa Indonesia kurang di minati, bahasa yang di gunakan itu bepengaruh dari lingkungannya, kondisi bahasa jawa banten masih digunakan dulu dan sekarang , meskipun ada yang bahasanya campuran bahasa Indonesia dan jawa banten saat sedang di wawancarai.

F. Sistem Mata Pencarian
Kondisi ekonomi rata-rata di kampung odel itu bisa di katakan menengah ke bawah , pekerjaan yang paling banyak digeluti itu buruh. Seperti buruh panglong(buruh kayu) pekerjaan inilah yang sehari-hari sebagian masyarakat odel kerjakan Karena di sekitar ksampung ini banyak pabrik kayu itulah alasan kenapa masyarakat odel memilih bekerja panglong kayu dibandingkan petani dan yang lainya,
Persentase pekerjaan dikampung ini  70% buruh, 15% karyawan dan 15% petani, berbeda dari kampung-kampung lain pekerjaan buruh lah yang paling di minati bukan petani, pekerjaan ibu-ibu hampir  rata-rata ibu rumah tangga dan ada juga karyawan tapi itu hanya beberapa saja, penghasilan dari buruh itu kira-kira 20 ribu per hari  atau kurang lebih 600 ribu perbulan, dari penghasilan tersebut, yang bisa dikatakan sangat lah kurang, mereka dituntut untuk menggunakannya dengan sebaik mungkin, sehingga dipaksa untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka sehari-hari.     
             

G. Pandangan Hidup dan Adat Istiadat
Mengenai pandangan hidup, masyarakat percaya dengan sejarah odel. Ki gede odel memiliki dua orang anak, sukma raga dan sukma jati. Sukma raga memiliki istri yang bernama nyi Karinah. Suatu hari, saat nyi karinah hamil, ia mengidam minta buah nangka kepada suaminya, si istri mengatakan bahwa itu adalah keinginan si jabang bayi. Sukma raga tidak percaya masa seorang istri yang sedang hamil minta apa-apa yang tidak pada waktu musimnya. Kemudian ki gede odel mencarikan  buah nangka tersebut untuk calon cucu nya. Sukma raga marah, karena tidak percaya maka akhirnya ia membedel (membedah) perut istrinya, dan memang benar si jabang bayi tersebut sedang mengemut buah nangka tadi, barulah sukma raga percaya dan menutup kembali perut istrinya. Saat proses melahirkan, nyawa sang bayi dan istrinya tidak dapat tertolong, kedua nya meninggal dunia. Dan hingga saat ini, nyi karinah tersebut sering datang dan mengganggu orang-orang yang hendak melahirkan. Ia (nyi karinah) sering masuk kedalam jiwa seseorang, yang tentunya hanya orang-orang yang lemah keimanannya yang bisa kerasukan itu, maka dari itu, benteng keimanan seseorang haruslah diperkuat sehingga terhindar dari gangguan dan bahaya tersebut.
Mengenai adat istiadat di kampong Odel ini, ada  beberapa adat istiadat yang hingga saat ini, merupakan hal yang harus dan mesti dilakukan. Seperti misalnya ketika hendak memasang pondasi rumah, nyuguh tamu (menyambut kelahiran seorang bayi ), acara pernikahan, bebaksan, dan lain sebagainya.
Ketika hendak memasang pondasi rumah, maka sebelum memasang pondasi  tersebut harus di bacakan syekh terlebih dahulu. Adapun isi bacaan Syekh tersebut merupakan rangkaian puji-pujian , syair-syair dan do’a-do’a. tujuan dari acara tersebut adalah tidak lain sebagai do’a mengharapkan kebaikan, kelancaran dan keberkahan.
Ada juga yang nama nya “nyuguh tamu”, yaitu acara berupa riungan yang dilakukan ketika lahirnya seorang bayi. Nyuguh tamu tersebut artinya menyambut kedatangan tamu baru, yaitu sang anak bayi yang baru lahir tersebut.
Selain itu juga terdapat sutau tradisi yang namanya “Bebaksan”, yaitu arak-arakan seorang anak kecil yang akan disunat. Ketika arak-arakan tersebut, sang anak digendong oleh orang dewasa yang memakai kukusan-yaitu alat yang berbentuk kerucut yang biasa digunakan untuk memasak nasi, selagi di arak itu, sang anak juga sambil di seborin dengan air, dan kemudian ada saweran.
H. kesenian dan Tradisi sebagian lisan
Adapun kesenian yang ada di kampong odel, yaitu berupa kesenian Rudat, yang dimainkan oleh 12 orang, seni bela diri,tradisi dzikiran dan baca syekh. Pada masa lampau kesenian atau tradisi dzikiran ini lah yang paling dibesar-besarkan.
Dzikiran ini merupakan rangkaian lafadz tahlil, tasbih,tahmid dan asmaul husna yang digabung. Seperti :
لااله الاالله سبحان الله والحمد لله يا رحمن يا رحيم
لااله الا الله سبحان الله والحمد لله يا حي يا قيوم
Dan seterusnya dengan asmaul husna yang berbeda-beda dengan jumlah yang beragam pula. Dzikiran ini tidak dibatasi waktu pelaksanaannya, baik siang ataupun malam. Dzikiran ini dilakukan untuk penenangan warga keseluruh masyarakat banten. Dalam suatu kitab do’a ini di sebut sebagai do’a Kanzul ‘Arsy. Akan tetapi seiring berjalannya waktu tradisi ini sedikit demi sedikit menghilang. Yang biasanya dibaca bersama-dengan jumlah yang sangat banyak, akan tetapi pada masa sekarang mungkin hanya segelincir orang saja yang masih mengamalkannya.
*        Permainan Rakyat
     Tidak ada suatu permainan rakyat khusus yang biasa di mainkan oleh masyarakat di kampung odel saat ini. Bahkan dari sekian banyaknya permainan untuk anak kecilpun, yang bertahan dan biasa dilakukan oleh mereka saat ini hanyalah sebatas permainan sepak bola. Sedih memang rasanya anak-anak zaman sekarang lebih tertarik dengan permainan-permainan yang berbau modern, seperti bermain Play Station (PS), gadget dan lain sebagainya, sehingga mereka tidak mengenal dengan permainan-permainan rakyat zaman dulu.
*        Makanan Tradisional
     Terdapat berbagai makanan yang biasa di buat dan dihidangkan pada saat-saat tertentu. Baik berupa kue-kue ataupun masakan yang lainnya. Waktu penyediaan nyapun bervariasi. Di hari raya, baik idul fitri maupun idul adha, makanan atau kue yang biasa mereka buat seperti : gemblong, rangginang,ranggining ataupun kue-kue kering yang lainnya semisal kripik-kripik dan lain sebagainya.
     Untuk perayaan hari-hari tertentu, semisal acara pernikahan, Perayaan Hari Besar Islam ( PHBI ) kue yang pasti akan ditemui yaitu gembleng, apem dan berbagai kue yang lainnya.
Gemblong yaitu makanan yang terbuat dari beras ketan yang di campur dengan parutan kelapa. Cara pembuatannya cukup mudah hanya saja membutuhkan tenaga yang luar biasa, karena untuk menumbuk campuran tersebut hingga halus tanpa butiran biji beras tersebut.
     Adapun Gembleng adalah kue yang berbahan dasar tepung beras, yang dicampur dengan tepung aci, garam,gula, air santan dan daun pandan sebagai pengharum makanan.
Sedangkan Apem, terbuat dari tepung beras, yang dicampur dengan tape, air santan, gula dan daun pandan.
     Adapun makanan atau masakan khusus yang biasa di suguhkan pada acara-acara seperti walimahan, syukuran ataupun resepsi pernikahan, yaitu “ Rabbeg “. Rabbeg yaitu masakan yang berbahan dasar daging kambing yang di lumuri dengan berbagai macam rempah-rempah sehingga menjadikan cita rasa yang sangat nikmat. Jenis makanan yang satu ini merupakan keharusan bagi si pemilik hajat untuk menyediakannya. Rasanya kurang afdhal bila menu rabbeg ini tidak tersedia disuatu acara.
*        Pengobatan Tradisional
Adapun mengenai pengobatan, sebagian masyarakat ada yang masih menggunakan obat-obatan tradisional yang memang mereka percaya dapat menyembuhkan penyakitnya, selain itu juga ada yang pergi ke klinik, tidak menggunakan obat tradisional. Akan tetapi bila kaitannya dengan hal-hal yang ghaib, mereka juga masih percaya dengan seorang dukun. Dukun tersebut, selain dipercaya menyembuhkan penyakit ia juga dipercaya mampu membantu orang-orang yang kehilangan atau kecurian.

I.         Tabu atau Pantangan atau Pamali
Seiring berjalan nya waktu, hal-hal yang dianggap tabu oleh masyarakat pada masa lampau, tidak berlaku pada masa sekarang. Misalnya seorang perempuan tidak boleh keluar rumah dimalam hari, dengan alasan yang tidak jelas, mereka hanya mengatakan pamali saja. Selain itu juga sikap masyarakat terhadap suatu makam, biasa nya orang tidak akan berbuat hal-hal yang ganduh atau pun kurang sopan karena khawatir mengganggu, tetapi di masa sekarang masyrakat terkesan cuek bebek dengan hal itu. Suatu contoh, biasa nya orang tidak berani melakukan hal-hal yang kurang baik di sekitar makam, tetapi sekarang dengan santai nya mereka mengadakan orgen ( dangdutan ) di sekitar makam.
Akan tetapi ada beberapa hal yang masih dianggap tabu oleh masyarakat hingga saat ini, yaitu khusus nya bagi kaum perempuan yang sedang hamil. Seorang wanita yang sedang hamil tidak boleh:
§      Keluar rumah di waktu Dzuhur dan Magrib
§      Duduk di depan pintu
§      Melewati kayu yang menghalangi langkah kaki
§      Melewati pohon “ kecacil” yang tumbuh di pinggir kali, dan
§      Tidak boleh bepergian sendiri, karena khawatir dibawa syaitan.
Selain larangan tersebut, wanita hamil juga di haruskan untuk membawa gunting, dengan tujuan agar terhindar dari bahaya. Selain itu juga, sang suami dari istri yang sedang hamil tersebut, tidak boleh melakukan hal-hal dengan sembarangan karena khawatir akan berimbas bagi kesehatan si bayi mereka.
Hal yang dianggap tabu atau pantangan lainnya, yaitu : saat acara ngusur tanah (meninggal nya seseorang ), tidak boleh membuat sayur menggunakan kacang panjang. Hal ini menurut mereka dikhawatirkan makam kubur nya akan terus memanjang. Wallahu A’ lam bis Shawab...
M. Upaya Pemeliharaan Aliran Sungi Cibanten
Keadaan sungai cibanten saat ini sangatlah memprihatinkan, dilihat dari kebersihannya yang tidaklah enak untuk di pandang. Air tersebut memang sangat bermanfaat bagi sebagian orang, baik di gunakan untuk pengairan sawah masyarakat, juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi ataupun mencuci. Meskipun demikian mereka tidak menghiraukan dengan kebersihanm lingkungan sungai tersebut. Tidak ada upaya atau pun gerakan dari masyarakat untuk bergotong-royong membersihkan aliran sungai tersebut.
Himabauan dari RT setempat untuk melaksanakan gotong-royong memang ada, akan tetapi yang turut serta membersihkan hanyalah beberapa orang saja, bahkan terkadang tidak ada satu orang pun yang ikut terjun langsung ke sungai. Mereka sadar akan pentingnya kebersihan air tersebut, akan tetapi tidak ada upaya maupun tindakan dari masyarakat untuk membersihkannya.
Sebagian masyarakat kampung odel memang tidak membuang sampah ke sungai, mereka biasa membuangnya ke kebun lalu membakarnya. Saat tim kami menanyakan dari mana sampah-sampah itu berasal, mereka menjawab bahwa sampah tersebut merupakan kiriman dari limbah pabrik yang berada di kampung sebelah.
Meskipun demikian, memang tidak dipungkiri lagi, bahwa ada saja sebagian masyarakat yang memang membuang sampah ke sungai, dengan dalih tidak adanya lahan sebagai tempat pembuangan sampah. Di tambah lagi dengan tidak adanya larangan dari aparatur pemerintah setempat baik berupa lisan maupun tulisan. Bahkan himbauan berupa plang atau spanduk tidak di temukan disana. Karena tidak adanya larangan, maka tidak berlaku juga sanksi.
Sebagian masyarakat memanfaatkan air sungai tersebut untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi ataupun mencuci, tetapi tidak untuk dikonsumsi. Air tersebut tidak layak untuk dikonsumsi, karena memang sudah sangat tercemari oleh berbagai macam hal.
Tidak ada upaya untuk menjaga, melindungi  maupun membersihkan aliran sungai cibanten ini, yang dilakukan oleh masyarakat. Mungkin, hanya sebatas kesadaran masing-masing masyarakat saja untuk tidak mencemari air tersebut.
O. Makna Sungai Bagi Masyarakat Sepanjang Aliran Sungai Cibanten
Masyarakat menyadari akan pentingnya air. Termasuk juga air sungai cibanten ini. Bagi masyarakat yang menggunakan air sungai cibanten tersebut, mereka mengatakan itu sangat bermanfaat, tapi sebaliknya, bagi yang tidak menggunakannya, beliau mengatakan tidak bermanfaat.
Masyarakat menyadari akan pentingnya memelihara kebersihan sungai cibanten, akan tetapi tidak ada upaya yang mereka lakukan guna menjaga kebersihan tersebut. Meskipun ada sebagian kecil masyarakat yang menjaga nya dengan tidak membuang sampah ke sungai tersebut.
P. Tinggalan Kepurbakalaan
Di kampung odel ini, terdapat satu buah kitab yang merupakan peninggalan zaman dahulu. Kitab tersebut bernama “Shahibur Riwayat”. Buku tersebut berisi tentang Dzikiran para ahli sufi, ilmu pengobatan, ilmu Ghaib dan penyaksian kepada banten. Kitab ini ditulis oleh seorang ponggawa banten yang bernama “Cili Wulung”.
Karena tidak terurus dengan baik, sehingga keadaan kitabnya sekarang ini sudah sangat rapuh, bahkan kain pembungkusnya sudah rapet dan tidak bisa dibuka. Kitabnya sendiripun sudah kering seperti kerupuk, karena memang terkena panas dan hujan. Kitab itu saat ini berada di rumah bapak Masnun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar