Sabtu, 13 Februari 2016

Danau Tasikardi



A.    Sejarah Danau Tasikardi
Danau Tasikardi adalah salah satu Danau yang memilik sejarah panjang dibuatnya Danua tersebut. Danau Tasikardi ini dibuat oleh tangan manusia pada zaman dahulu pada masa pemerintahan Sultha Maulana Yusuf  dan Sulthan Ageng Tritayasa, Danau ini dibuat atas dasar wasiat dari bapaknya untuk mengurangi penyakit yang timbul pada saat itu, juga untuk mengairi kolam yang berada pada Keraton Surosowan , dan juga untuk mengairi persawahan masyarakat sekitar. Dari segi fungsi dan kegunaannya Danau ini memang sangat berfungsi untuk kelangsungan hidup manusia pada saat itu. [1]Sekitar tahun 1570-1580 Masehi pada masa pemerintahan Sulthan Maulana Yusuf  Danau ini di buat dengan cara alat-alat sederhana semamacam cangkul dan sebagainya, akan tetapi alat yang digunakan pun masih tidak sesempurna dengan saat ini yang kita lihat. Danau tasikardi berasal dari bahasa sunda yaitu Tasik;danau dan Ardi;Buatan , dan kalo kita sambung yaitu Danau Buatan, memang Danau ini asli buatan manusia saat itu, dari sumber juga ada yang mengatakan sekitar 2000 ribu orang ikut dalam pembuatan Danau tersebut, yang merupakan masyarakat sekitar dan sebagian orang belanda yang membantu dalam hal itu, karena memang belanda juga ingin membantu guna kelangsungan hidup mereka dan meminimalisir penyakit yang ada.
Berdasarkan sejarahnya danau ini dibuat pula untuk tempat persistirahatan sulthan-sulthan dan mengasingkan diri ketika sulthan merasa bosan di keraton surosowan. Danau ini mempunyai air dari aliran sungai Cibanten dan kemudian dialirkan ke Pengindelan yang juga ada tahapan dalam pengindelan ini, pengindelan adalah salah satu alat penyaringan air yang sengaja dibuat untuk menyaring air yang berasal  dari Danau tasikardi tersebut. Karena memang air yang berada pada Danau Tasikardi keruh ataupun berwarna kurning, oleh karenanya air yang akan dilarikan ke Keraton Surosowan haruslah bersih dan jernih karena untuk digunakan sebagai Air bersih untuk masyarakat sekitar dan Kolam loro dengok di Keraton Surosowan.
Ada sebuah tempat ataupun pulau buatan yang berada di tengah-tengah Danau Tasikardi yang disebut sebagai Balai Kambang yang artinya Tempat Peristirahatan, disini pada sejarahnya dijelaskan sebagai tempat istirahat para Sulthan beserta keluarganya guna untuk mengasingkan diri dan rekreasi jikalau mereka bosan berada di Keraton Surosowan, dan ada juga yang mengatakan sebagai tempat mengasingkan diri Sulthan karena memang keadaan di Keraton Surosowan sangatlah bising ataupun tidak kondusif dalam merenung/beristiqomah jadi dibuatlah Danau Tasikardi dan Balai Kambang tersebut yang banyak mempunyai beberapa kegunaaan dan manfaat baik untuk keluarga Sulthan maupun masyarakat sekitar. Ada beberapa sebuah tempat peninggalan yang ada di pulau buatan tersebut seperti kolam renang dan sebagainya. Menurut ahli arkeolog yang kita tanyakan secara langsung bahwa beliau mengatakan “ dalam ilmu arkeolog, seorang arkeolog tidak dapat memastikan sebuah bangunan yang berada pada tempat Balai Kambang tersebut tidak bisa dikatakan sebuah tempat pemandian para Sulthan-Sulthan dan lain sebagainya, Karena memang kita tidak tahu pasti bagaimana kejadian sebenarnya dan tidak memiliki sumber yang valid untuk dikatakan bahwa bangunan tersebut adalah tempat pemandian Sulthan/tempat peristirahatan Sulthan. Pulau buatan tersebut berbentuk segiempat  dan diberi tembok keliling di setiap sisinya, terdapat tangga untuk naik di sisi sebelah utara. Tapi yang tersisa saat ini hanyalah pondasi bangunan yang berdiri dari batu bata. Sebuah kolam pemandian terletak di sebelah timur dengan beberapa terap anak tangga untuk menuju kebawah, dan ada beberapa tempat seperti panampungan air, pendopo, kamar dan tempat mandi keluarga sulthan.


B.     Deskripsi Bangunan Danau Tasikardi
Danau Tasikardi adalah danau buatan dengan luas 5 hektar dan bagian bawahnya dilapisi ubin dan bata. Di tengah danau terdapat pulau yang berbentuk persegi dengan panjang masing-masing sisi 40,3 cm, jarak dari bibir danau ke pulau atau yang sering disebut balekambang adalah 200 m.
Di dalam balekambang tersebut terdapat sebuah sisa bangunan dengan lebar 7,70 cm dan panjang 31,30 cm, di dalam bangunan tersebut terdapat ruangan-ruangan dengan panjang 19 m dan lebar 8,53 cm. di balekambang itu juga terdapat sebuah kolam dengan panjang 6,40 cm, lebar 5 m, kedalaman kolam tersebut mencapai 1,40 cm dan mempunyai 8 anak tangga.

C.     Tujuan Pembuatan Danau Tasikardi
Tasikardi adalah sebuah danau yang berada di kabupaten serang tepatnya di kecamatan Kramat watu dimana pada zaman dahulu tempat ini dijadikan sebagai tempat rekreasi sultan-sultan dan keluarganya, tempat pemandian para putri kerajaan, dan tempat ini juga berfungsi sebagai penampungan air.
Adapun tujuan umum yang melatarbelakangi dibuatnya danau tasikardi adalah, yang pertama sebagai penampung air dari Sungai Cibanten yang
digunakan untuk mengairi areal persawahan, dan yang kedua adalah
untuk memenuhi pasokan air bagi keluarga keraton dan masyarakat
sekitarnya. Jika ditelusuri lebih lanjut ada beberapa tujuan khusus yang melatarbelakangi dibuatnya danau tasikardi, antara lain :

1.      Segi Ekonomi
Bila kita menengok sejarah , danau ini merupakan bukti nyata bahwa Kerajaan Banten dimasa kejayaanya terutama di masa Sultan Ageng Tirtayasa sangat memperhatikan masalah pengairan. Dari danau inilah air dialirkan kepersawahan penduduk untuk meningkatkan hasil pertanian. Karena pembangunan dibidang pengairan ini pulalah beliau dijuluki Tirtayasa yang artinya kurang lebih Sang Penguasa Air. Air danau tasikardi yang berasal dari Sungai Cibanten, Sungai Cibanten yang berasal dari Gunung Karang, sekitar 30km di selatan, terbagi menjadi dua sebelum mengalir ke laut. Kedua muara sungai ini membentuk dua pelabuhan yaitu pelabuhan internasional di sebelah barat dan pelabuhan lokal yang disebut karangantu(ClaudeGuillot,2008:66). Yang digunakan untuk mengairi areal persawahan, danau ini juga dimanfaatkan
untuk memenuhi pasokan air bagi keluarga keraton dan masyarakat
sekitarnya. Air Danau Tasikardi dialirkan ke Keraton Surosowon melalui
pipa-pipa yang terbuat dari tanah liat berdiameter 2-40 sentimeter.
Sebelum digunakan, air danau tersebut terlebih dahulu disaring dan
diendapkan di tempat penyaringan khusus yang dikenal dengan sebutan
pengindelan abang (penyaringan merah), pengindelan putih
(penyaringan putih), dan pengindelan emas (penyaringan emas).

2.      Segi Sosial
Kegiatan sosial masyarakat sekitar tasikardi sangat merasakan dampaknya saat dibuatnya danau tasikardi ini, masyarakat banyak memanfaatkan air danau tasikardi ini untuk mengaliri persawahan mereka dan masyarakat pada saat itu hidup sejahtera. Dan merka tidak perlu menunggu hujan untuk memperoleh air untuk mengaliri persawahannya, Kehidupan masyarakat Banten yang memiliki latar belakang dalam dunia pelayaran, perdagangan dan pertanian mengakibatkan masyarakat Banten memiliki jiwa bebas dan lebih bersifat terbuka, dengan demikian mereka dapat bergaul dengan pedagang-pedagang dari berbagai bangsa yang lain. Para pedagang lain tersebut banyak yang menetap dan mendirikan serta membangun perkampungan di Banten, seperti perkampungan Keling, perkampungan Pekoyan (Arab), perkampungan Pecinan (Cina) dan sebagainya. Selain perkampungan tersebut  ada pula perkampungan yang dibentuk berdasarkan pekerjaan seperti Kampung Pande (para pandai besi),  Kampung Panjunan (pembuat pecah belah) dan kampung Kauman (para ulama).  Dan kehidupan sosial masyarakat Banten memiliki landasan yang mengacu pada ajaran-ajaran yang berlaku dan sesuai dengan agama Islam, sehingga kehidupan masyarakatnya hidup secara teratur.

3.      Segi Politik
Dalam pembuatan danau ini pasti ada tujuan terselubung dari pihak belanda, karena pada waktu itu kondisi banten lama yang terletak di pinggir pantai, memiliki lingkungan tanah yang banyak menyerap air laut. Tidak ditatanya perkotaan dengan baik, mengakibatkan kota menjadi becek dan sungaipun selalu kotor. Kondisi perkotaan semacam itu bukan merupakan pemukiman yang sehat. Sehingga berjangkitnya penyakit, selalu bersifat epidemis menjadi wabah yang menular. Korban-korban yang meninggal, tidak hanya menyerang rakyat biasa melainkan juga diderita oleh orang-orang Belanda yang bermukim di Benteng Speelwijk. Dan alasan mengapa belanda mau membatu Sultan pada waktu itu dalam pembuatan danau adalah karena selain orang-orang belanda yang berada speelwijk terjangkit wabah juga mereka memanfaatkan hasil rempah-rempah berupa lada yang tidak lama lagi akan panen, waktu panen lada harga akan jauh lebih murah
FUNGSI DULU DAN SEKARANG
A.    Dahulu
Danau tasikardi mempunyai beberapa fungsi yaitu :
1.      Danau tasikardi digunakan sebagai tempat istirahat Sulthan bersama keluarganya.
2.      Danau tasikradi dijadikan sebagai tempat penampungan air dari sungai Cibanten.
3.      Danau tasikardi digunakan untuk mengairi areal persawahan sehingga pada masa Sulthan Maulana Yusuf area persawahan di daerah banten sangat subur sekali sehingga masyarakat bisa memanen padinya dua kali dalam satu panen.
4.      Danau tasikardi juga berfungsi sebagai pasokan air bagi keluarga keraton. Air danau tasikardi dialirkan ke Kerataon Surosowan melalui pipa-pipa yang terbuat dari tanah liat yang dibakar, sehingga tanah liat tersebut menjadi merah, pipa-pipa tersebut berdiameter 2-40 cm sebelum air danau tasikardi digunakan, terlebih dahulu air tersebut di tampung di tempat di penyaringan ataupun juga disebut pengindelan, pengindelan ini mempunyai tiga tahap yang pertama pengindelan abang, pengindelan putih, dan pengindelan emas.

B.     Sekarang
Danau tasikardi saat ini berfungsi untuk taman wisata, dan danau ini juga sudah dipugar dengan beberapa bangunan yang berupa saung-saung, pagar, pintu masuk dan lain sebagainya. Danau tasikardi saat ini di kenal dengan taman wisata bebek-bebekan dan untuk mengelilingi sekitar danau ataupun juga menyebrangi danau untuk ke pulau buatan Balai Kambang yang mempunyai sejarah tersebut ada banyak bebek-bebekan yang memang telah di sediakan oleh pengurus danau tersebut. Danau ini memang sangat cocok untuk kumpul bersama keluarga dan sebagainya, karena memang suasana dan tempatnya berada pada tengah-tengah persawahan yang udaranya sangat sejuk.


[1] Lukman Hakim, Banten Dalam Perjalanan Journalistik, Banten Herritage, Serang, 2006, Hlm 119.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar